Film 'THE BELL' Angkat Kisah Urban Legend di Belitung
THE BELL (Credit: Istimewa)
Kapanlagi.com - Film horor masih terus menjadi genre yang diminati oleh pecinta film Tanah Air. Salah satu yang akan segera tayang adalah THE BELL: PANGGILAN UNTUK MATI. Film ini diangkat dari urban legend yang dipercaya oleh warga Belitung.
The bell atau lonceng juga merujuk pada mitos lonceng keramat yang dimiliki para dukun kampung di Belitung. Di dalam lonceng inilah sang dukun mengurung setan, arwah penasaran, bahkan hantu Penebok.
“Para leluhur dulu menakuti anak-anak mereka dengan hantu Penebok yang mengincar kepala untuk dijadikan tumbal,” kata Haji Sahani Saleh mengawali ceritanya.
Advertisement
1. Mayat Tanpa Kepala
Cerita hantu Penebok pada akhirnya menjadi legenda kontemporer yang hidup di masyarakat Belitung. Konon, ia dikurung dan dibuang di salah satu kawasan Belitung Timur yang dikenal sebagai daerah pulau Dapur.
Cerita tentang korban atau mayat tanpa kepala juga beberapa kali ditemukan di kawasan pantai Belitung. Tahun 2008 harian Kompas mencatat adanya korban tewas tanpa kepala, tahun 2017 juga ada temuan korban tewas tanpa kepala yang menjadi investigasi liputan harian Bangka Pos. Terakhir tahun 2021, harian Pos Belitung menurunkan artikel temuan mayat misterius tanpa kepala. Tiga artikel ini menjadi dasar cerita produksi film THE BELL: PANGGILAN UNTUK MATI.
Hantu Penebok – Sanem (nama panggilan Haji Sahani Saleh) menjelaskan -- memang tidak sepopuler cerita kuntilanak, pocong, tuyul, suster ngesot, wewe gombel atau Nyi Roro Kidul. Namun bagi masyarakat Belitung, hantu Penebok ini sudah menjadi legenda yang dituturkan para leluhur. Sangat misterius, mistis, hidup dalam cerita tabu dan tak sedikit warga yang pernah bertemu hantu yang digambarkan tanpa kepala.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
2. Syuting di Belitung Timur
Konon, hantu ini adalah jelmaan dari noni Belanda yang meninggal dan dibunuh secara misterius karena mempertahankan tanahnya. Itu sebabnya, hantu Penebok selalu mencari korban dengan melepas kepala korban. Cerita horor yang hidup dan didengar sejak masa kolonial dan di awal penambangan timah di Belitung mulai bergeliat.
Produksi THE BELL: PANGGILAN UNTUK MATI seluruhnya dilakukan di Belitung Timur. Durasi produksi berlangsung selama 16 hari.
“The Bell menjadi film ketiga yang mengeksplorasi potensi Belitung Timur secara khusus. Dua film awal adalah Laskar Pelangi dan A Man Called Ahok. Keduanya sukses produksi dan sukses penjualan sebagai film box-office,” jelas Budi Yulianto, selaku Eksekutif Produser.
(Di usia pernikahan 29 tahun, Atalia Praratya gugat cerai Ridwan Kamil.)
Berita Foto
(kpl/aal/tdr)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba